Sabtu, 15 Oktober 2011

Amalan-Amalan Berpahala Seperti Shalat Malam[1] (bagian 1)



Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada penutup para nabi dan rasul, nabi kita  Muhammad -shalallahu alaihi wasallam-, kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.
Adapun selanjutnya:
"Qiyamul lail" (shalat malam) mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah -azzawajalla-. Ia adalah shalat yang paling utama setelah shalat "fardu" (wajib). Keistimewaannya tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mencegah pengamalnya terjatuh ke dalam dosa. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu'anhu- dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,
[عليكم بقيام الليل، فإنه دأب الصالحين قبلكم، وقربة إلى ربكم، ومكفرة للسيئات، ومنهاة للإثم] رواه الترمذي وابن خزيمة والحاكم وصححه الألباني
“Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam, karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, pendekat kepada Tuhan kalian, penghapus kejelekan dan pencegah berbuatan dosa.”[2]
Dahulu para Salafusshalih -rahimahumullah- bahkan kakek-kakek kita pada waktu belakangan tidak melalaikan shalat malam. Namun sekarang, kebanyakan manusia telah membalikkan malam menjadi siang dengan bergadang, sehingga luput dari mereka kelezatan bermunajat kepada Allah di tengah malam, hingga sampai pada meninggalkan shalat Fajar (subuh).
Ketika Thâwus Ibn Kaisân[3]rahimahullah- hendak menemui seseorang menjelang subuh, dikatakan kepadanya bahwa orang itu masih tidur. Thâwus berkata, “Aku tidak menyangka bahwa ada orang yang tidur menjelang subuh.[4] Jika Thâwus Ibn Kaisan mengunjungi kita sekarang ini, kira-kira apa yang akan dikatakannya tentang kita?!
Sesungguhnya di antara rahmat Allah -azzawajalla- kepada hamba-hamba-Nya, Dia berikan kepada kita amalan-amalan mudah yang pahalanya menyamai pahala shalat malam. Siapa yang luput melakukan shalat malam atau lemah melaksanakannya, janganlah melewatkan amalan-amalan tersebut agar berat timbangan amalnya. Ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan shalat malam, "Salafusshalih" -rahimahumullah- (generasi terdahulu kita) tidak memahami seperti itu, mereka giat dalam setiap medan kebaikan.
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah menunjukkan kepada para sahabatnya yang mulia beberapa amalan-amalan mudah bagi siapa yang tidak dapat memaksa dirinya melakukan shalat malam. Motivasi dari Nabi -shalallahu alaihi wasallam- agar berbuat banyak kebaikan sehingga banyak pula pahala kebaikannya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu'anhu-, katanya, "Rasul -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
[ من هاله الليل أن يكابده  أو بخل بالمال أن ينفقه  أو جبن عن العدو أن يقاتله  فليكثر من سبحان الله وبحمده  فإنها أحب إلى الله من جبل ذهب ينفقه في سبيل الله عز وجل ] رواه الطبراني في الكبير (7795)، وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: صحيح لغيره (1541).
“Siapa yang dicegah oleh istirahat malamnya untuk melakukan ibadah atau kebakhilannya terhadap harta untuk berinfak atau ketakutannya kepada musuh untuk memeranginya, hendaknya memperbanyak mengucap: "subhanallah wa bi hamdihi" (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian milik-Nya). Karena yang demikian itu lebih disukai oleh Allah dari gunung emas yang diinfakkan di jalan-Nya -azzawajalla-.” [5]
Hadits-Hadits yang saya paparkan tadi sebetulnya adalah amal-amal yang pahalanya seperti pahala shalat malam. Rasul kita menunjukkannya kepada kita untuk menambah kebaikan-kebaikan kita dan memberatkan timbangan kita. Marilah kita amalkan. Di antara yang terpenting:
1. Melaksanakan shalat Isya dan Fajar berjamaah.
Utsman ibn ‘Affan -radiallahu'anhu- berkata, "Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
[ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ  وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ ] رواه الإمام مالك (371) ، وأحمد الفتح الرباني- (5/168) ، ومسلم (656) ، والترمذي (221) ، وأبو داود واللفظ له (555) ، والدارمي (1224) .
'Siapa yang shalat Isya berjamaah maka seperti shalat setengah malam dan siapa yang shalat Isya dan Fajar berjamaah maka seperti shalat semalam suntuk.”[6]
Oleh sebab itu semestinya loba dalam melaksanakan shalat fardu di masjid secara berjamaah dan tidak melewatkannya sama sekali, karena pahalanya sangat agung, khususnya shalat ‘Isya dan Fajar. Keduanya adalah shalat yang paling berat bagi orang–orang munafik. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya niscaya akan mendatanginya walaupun dengan merangkak sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. Pahala kedua shalat di atas masing-masingnya seperti pahala shalat setengah malam.
2. Melaksanakan shalat empat rakaat sebelum shalat Zuhur.
Dari Abi Shalih -rahimahullah-[7] bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
[ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ يَعْدِلْنَ بِصَلاَةِ السَّحَرِ ] رواه ابن أبي شيبة في مصنفه (5940) ، وحسنه الألباني في السلسلة الصحيحة (1431) .
“Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat menjelang subuh.”[8]
Di antara keistimewaan empat rakaat ini dibukakan pintu-pintu langit, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari -radiallahu'anhu-  bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
[ أربع قبل الظهر تفتح لهن أبواب السماء ] رواه أبو داود (3128) ، والترمذي في الشمائل ، وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: حسن لغيره (585)
“Shalat empat rakaat sebelum Zuhur dibukakan dengannya pintu-pintu langit.”[9]
Karenanya Nabi -shalallahu alaihi wasallam- konsisten melaksanakannya. Jika terluput karena ada kepentingan yang tiba-tiba, beliau menggantinya dengan dilaksanakan setelah shalat fardu, tidak meninggalkannya. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah -radiallahu'anha-, beliau berkata,
“Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika belum melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelahnya.”[10]
Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata,
“Dahulu jika Nabi terluput melaksanakan empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelah Zuhur.”[11]
Oleh sebab itu, siapa yang terlewatkan shalat empat rakaat atau tidak sempat melaksanakannya karena kepentingan pekerjaan, seperti sebagian para pengajar, maka tidak mengapa menggantinya setelah selesai pekerjaannya dan pulang ke rumahnya.
Abu ‘Isa at-Tirmidzi –rahimahullah- berkata,
Hadits (di atas) menunjukkan disyariatkannya menjaga pelaksanaan shalat-shalat sunnah sebelum fardu. Waktunya lapang sampai berakhir waktu shalat fardu. Yang demikian karena, jika waktunya usai bersama usainya pelaksanaan shalat fardu tentu pelaksanaan setelahnya menjadi "qodho" (pengganti) sehingga mustinya dilakukan sebelum shalat sunnah bakda Zuhur. Namun dari hadits yang valid, jelas bahwa beliau melaksanakannya setelah shalat sunnah dua rakaat ba'da Zuhur. Pengertian yang seperti itu disebutkan oleh al-'Irâqi dan mengatakan, 'Inilah yang benar menurut Madzhab Syafi'iah.[12]


[1] Bagian dari dua tulisan “Kaifa Tustkilu Mîzânak” (Bagaimana Menambah Berat Timbangan Amal).
[2] HR. aT-Tirmidzi no.3549, ibnu Khuzaimah no.1135, al-Hakim no.1156 dan al-Albani berkata dalam Shahih at-Targib wa at-Tarhib: hasan li gairihi.
[3] Seorang ulama al-Quran dari generasi tabi’in.
[4] Lihat kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqotul Ashfia` oleh Abu Nu’aim IV/6.
[5] HR. at-Thabarani dalam al-Kabir (7795) al-Albani mengomentari dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: shahih li ghairihi
[6]  HR. al-Imam Malik no.371, Ahmad al-Fathu ar-Rabani IV/168, Muslim no.656, at-Tirmidzi no.221, Abu Daud dan lafadznya no.555 dan ad-Darimi no.1224.
[7] Hadits ini marfu' mursal.
[8]  HR.Ibnu Abi Saibah dalam Mushannafah no.5940 al-Albani menghasankannya dalam as-Silsilah as-Shahihah no.1431.
[9]  HR. Abu Daud no.3128, at-Tirmidzi dalam asy-Syamail, al-Albani mengomentari dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: hasan li ghairihi no.585
[10]  HR.at-Tirmidzi no.426, al-Albani menghasankannya dalam Shahih at-Tirmidzi no.350
[11]  HR. al-Baihaqi, al-Albani menghasankannya dalam Shahih al-Jami’ (426)
[12] Jami' at-Tirmidzi oleh Ibnu 'Isa at-Tirmidzi.

sumber:

Read more »

Kenapa Orang Gila Selalu Sehat?!



Pernahkah kita berpikir, mengapa orang gila selalu sehat? Beberapa kali kita berusaha memikirkan mengapa orang gila tidak pernah sakit? Tidak pernah kita melihat sekali pun ada orang gila kerokan di pinggir jalan, meminum obat, memakai koyok, atau bahkan sakit gigi sekalipun. Jawabannya adalah KARENA MEREKA TIDAK PERNAH STRESS ATAU GENDHENG, EDAN SARAP !!!

Orang gila tidak pernah sakit karena mereka tidak pernah stress. Mereka tidak pernah berpikir macam-macam, seperti hutang, menghidupi keluarga, dll. Makanan apa pun mereka makan. Tidak seperti kita. Sudah kenyang ayam goreng, masih mencari nasi campur. Sudah ada soto kerbau, masih mencari pizza, hotdog, dan lain lain. Sedangkan orang gila tidak pernah minta makanan macam-macam. Makanan apapun asal namanya makanan tetap mereka makan. Bahkan nasi basi pun mereka makan, entah dari tong sampah atau dari pemberian warga sekitar.

Kedua, orang gila itu selalu nriman (ikhlas, lapang dada). Menerima apa pun pemberian Alloh kepadanya. Tidak pernah menuntut macam-macam. Tidak seperti kita. Sudah diberi sepeda, masih minta motor. Sudah punya motor, masih minta mobil. Rumah sudah bagus, masih saja selalu merasa ada yang kurang. Akhirnya beli ini beli itu, renovasi ini renovasi itu. Ujungnya hutang sana sini untuk kebutuhan tersebut. Nah, ketika hutangnya sudah menggunung, jatuh sakitlah dia.

Orang gila itu entah punya pakaian ataupun tidak, mereka santai saja. Kalau mengantuk, ya tidur saja. Mereka tidak butuh tikar, apalagi kasur atau springbed. Banyak diantara manusia normal yang tidak bisa tidur di atas tikar. Gara - gara karena sudah terbiasa tidur di springbed. Tidur tanpa AC juga tidak bisa.

Orang gila jarang sakit juga adalah karena mereka selalu berbahagia. Nyatanya mereka tampak selalu tersenyum. Betul kan? Orang yang selalu tersenyum pasti hatinya bahagia dan tenteram. Everething is running well, bahasa kerennya. Semuanya berlalu dengan baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Kalaupun ada masalah, dia menganggap itu sebagai hiburan yang menyenangkan. Makanya dia senantiasa tersenyum.

Nah, kalau kamu semua ingin selalu sehat jadilah "orang gila". Maksud saya, hiduplah dengan nerimo, tidak usah punya keinginan macam-macam dan selalulah tersenyum. Mudah-mudahan kita semua sehat selalu . Amiiin..!

Read more: http://72bidadari.blogspot.com/2011/10/kenapa-orang-gila-selalu-sehat.html#ixzz1atn27Lh3

Read more »

Fakta Terselubung Bahwa Naruto Berasal Dari Indonesia

Berikut data-data yang berhasil ane kumpulkan sebagai bukti Naruto adalah orang Indonesia:

Asal nama Naruto Narto
Mungkin yang pernah belajar Bahasa Jepang, tahu hal ini. Lidah orang Jepang itu agak "belibet", jadi ada perbedaan pengucapan orang Jepang untuk kata dengan konsonan yang dobel. Misal: Dragon > Duragon, Restoran > Resutoran, dll.
Makanya, jadilah si Narto itu menjadi Naruto di Jepang...

Bantuan dari ahlinya:
tapi kalo dari soal nama ada benernya juga sih.... NARUTO ditulisnya pake hurup KATAKANA bukannya HIRAGANA, berarti NARUTO itu adalah nama yang berasal dari luar jepang (asing), kalo nama jepang selalu ditulis dengan HIRAGANA..... dan NARUTO adalah memang berasal dari NARTO..... tapi apakah Masashi Kisimoto Sensei membuat nama karakter Naruto dari kata Narto?? Hanya dia yang tahu...

Bantuan dari yang lebih gila:
Naruto Shippuden=Narto Syaifudin

Asal Negara

Naruto dikisahkan berasal dari negara Api dengan iklim yang cerah dan hangat. Dimana lagi negara tropis dengan banyak gunung api aktif, selain di negara kita tercinta?...
Dan yang perlu agan tahu, INDONESIA ADALAH NEGARA YANG MEMILIKI POTENSI ENERGI PANAS BUMI (GEOTHERMAL) TERBESAR DI DUNIA...



Desa Tempat Tinggal
Penggemar serial ini pasti tahu Desa Konoha, yang berarti Desa Daun.
Agan tahu di manakan letak Desa Daun yang sesungguhnya?..
Coba cek di google: Desa Daun terletak di Kecamatan Sangkapura, letaknya di Pulau Bawean, Jawa Timur.
Ini dia penampakan salah satu sudut Desa Daun

Liat papan nama di gapuranya

Dan disinilah letaknya

Read more »